MAKNA SIMBOLIK UPACARA ADAT BALIA BALIORE
PADA SUKU KAILI (KAJIAN SEMIOTIK)
Oleh : FITRI NURFANI
Setiap kebudayaan memiliki
ciri masing-masing. Ada ciri bahasa, pakaian adat, makanan khas, upacara adat
serta simbol-simbol yang terdapat dalam upacara adat tersebut. Kebudayaan
berasal dari bahasa Belanda cultuur, yang berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan dan mengembangkan,terutama mengolah tanah atau bertani. Jadi,
kebudayaan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal
budi (pikiran) manusia dengan tujuan tertentu. Semua kelompok masyarakat pasti
memiliki kebudayaan, karena manusia merupakan subjek budaya, yang berbeda
hanyalah tingkat dan taraf kebudayaan yang dipunyai oleh masing-masing kelompok
manusia atau masyarakat. Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang
terdapat di negara Indonesia dan didiami oleh beragam suku bangsa, antara lain:
suku Kaili, suku Bugis, dan suku Jawa. Suku Kaili merupakan salah satu suku
asli dari Sulawesi Tengah dan merupakan kelompok etnik yang terbesar jumlah
serta penyebarannya dalam seluruh wilayah propinsi yang amat luas. Menurut
Mattulada, To Kaili (orang Kalili) pada dewasa ini menempati jumlah terbesar
yang mendiami daerah kabupaten dan daerah tingkat II Donggala, dan sebagian
lainnya bermukim di beberapa wilayah kecamatan dalam daerah kabupaten lainnya.
Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kelompok-kelompok etnik dalam subkultur
Kaili dapat dikatakan telah menjadi subetnik Kaili dalam pernyataan-pernyataan
kultural, pada dewasa ini dapat disebut sesuai dengan nama tempat pemukimannya
seperti: (1) To-Palu (To-ri-Palu), (2) To- Biromaru (To-ri- Biromaru), (3) To-
Dolo (To-ri Dolo), dan seterusnya.
Salah satu aspek budaya
dari sejumlah aspek budaya etnik Kaili, antara lain meliputi beberapa upacara
tradisional yang berkaitan dengan emosi keagamaan (religius emotion), maupun
kepercayaan yang titik berat dan uraiannya menyangkut tata sajian dalam upacara
tersebut hingga saat ini masih dipergunakan pada saat-saat tertentu. Balia
mengandung makna sebagai upacara penyembuhan penyakit, sebagai alternatif
apabila si sakit terkena jampi-jampi atau ilmu sihir, atau ditegur oleh makhluk
halus. Menurut Samran Daud, selaku pemangku adat mengatakan bahwa Balia
mempunyai beberapa fungsi dan tujuan, antara lain : (1) sebagai upacara
penyembuhan penyakit, (2)sebagai penolak bala (Pompaura) yaitu dapat
menghindarkan dari segala bencana dan malapetaka, (3) digunakan untuk
pelantikan bagi sando muda yang akan menggantikan sando yang sudah tua
(nompoponturo). Selanjutnya Samran Daud menyatakan upacara adat Balia merupakan
induk dari upacara adat tradisional yang berkaitan dengan religi dan
kepercayaan suku kaili. Pada suku kaili dikenal berbagai macam jenis balia yang
tentunya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, sebagai contoh yaitu:
(1) Balia Tampilangi Ulujadi yaitu balia yang tata cara pelaksanaannya hanya
diperuntukkan sebagai upacara penyembuhan penyakit, dengan memberikan
persembahan hewan kurban berupa Ayam, Kambing, Babi, ataupun Kerbau, tergantung
dari tingkatan kebutuhan dalam upacara adat itu sendiri. (2) Balia Tampilangi
Tomataeo yaitu balia yang digunakan untuk upacara penyembuhan penyakit dan
penolak bala. Dalam upacara adat balia ini menggunakan hewan kurban sama
seperti balia Tampilangi Ulujadi hanya yang membedakan daging hewan persembahan
dapat dimakan. (3) Balia Ntorudu yaitu balia yang digunakan untuk penyembuhan
penyakit, yang tata cara pelaksanaannya hampir sama dengan balia tampilangi
dengan cara menginjak bara api. (4) Balia Jinja yaitu balia yang digunakan
untuk penyembuhan penyakit dengan cara memainkan alat musik yang terdiri dari
dua buah gendang (gimba), satu buah gong (goo), dan tiga buah seruling
(lalove). Alat musik tersebut digunakan untuk memanggil arwah para leluhur
ataupun makhluk gaib. (5) Balia Tomini yaitu upacara adat yang digunakan untuk
penyembuhan penyakit, yang tata cara pelaksaannya hampir sama dengan balia
jinja, hanya saja alat musik yang digunakan yaitu satu buah gendang (gimba),
satu buah seruling (lalove) dan satu buah gong (goo). (6) Balia Baliore yaitu
upacara adat yang digunakan sebagai penyembuhan penyakit, penolak bala, maupun
digunakan sebagai pelantikan sando muda (nompoponturo).
Berdasarkan berbagai macam balia beserta fungsi dan tujuannya, peneliti
memilih satu jenis Balia, yaitu Balia Baliore yang bertujuan untuk menolak bala
dalam bahasa kaili tula’bala (pompaura). Dalam bahasa kaili kata tula‟bala
mengandung arti “tula” artinya tolak dan “ bala” artinya penyakit,
petaka,bencana, dan lain sebagainya. Jadi, tula‟bala (pompaura) mengandung
pengertian menolak bahaya, malapetaka, dan bencana yang akan terjadi, sedang
terjadi, dan telah terjadi untuk tidak terulang kembali.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kajian semiotik karena semiotik
merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda yang mempunyai makna. Dalam
upacara ritual balia khususnya pada Balia Baliore terdapat simbol-simbol yang
sarat makna yang perlu diketahui dan dilestarikan. Berdasarkan uraian di atas,
penulis menarik kesimpulan, memilih, dan menetapkan judul Makna Simbolik
Upacara Adat Balia Baliore Suku Kaili (Kajian Semiotik). Adapun yang
melatarbelakangi judul penelitian ini yaitu: 1). Upacara adat Balia pada suku
Kaili khususnya balia baliore penolak bala penting untuk diketahui oleh
generasi muda dalam usaha mempertahankan dan melestarikan adat istiadat sebagai
bagian integral di kebudayaan Sulawesi Tengah,
mengingat dengan adaya kemajuan dan perkembangan teknologi mempengaruhi
cara berpikir generasi muda. 2). Upacara adat Balia Baliore penuh dengan
simbol-simol yang sarat akan makna sehingga perlu dikaji secara mendalam
sebagai warisan leluhur etnik Kaili yang memiliki nilai budaya yang tinggi.3).
Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan dapat memperoleh informasi dan
pengetahuan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan etnik kaili
khususnya makna simbolik dalam upacara adat balia baliore pada suku Kaili.
Makna merupakan model konseptual paling umum diakui dan dipakai oleh para
ahli baik dalam bidang sosial maupun eksakta didalam mempelajari suatu ilmu
pengetahuan. Makna dimaksudkan membantu untuk menjelaskan tentang sesuatu hal.
Makna tersebut berangkat dari pandangan kelompok-kelompok manusia yang
merupakan suatu sistem. Makna suatu hal dalam masyarakat pada umumnya juga
merupakan suatu keyakinan dan itu akan diterima melalui suatu cara tertentu.
Proses penerimaan ini melalui apa yang disebut dengan pengesahan dan pemetaan
pengetahuan, keduanya tidak lain hanya merupakan suatu metode pengujian yang
dianggap perlu atau memadai oleh para warga suatu sistem sosial untuk melahirkan
suatu keyakinan. Seorang sosiolog Bertrand (1990: 29) memandang bahwa makna
merupakan suatu wawasan dalam sosiologi atau sebagai suatu model konseptual
yang paling umum diakui dan digunakan dalam sosiologi. Suatu wawasan adalah
suatu sudut pandang suatu cara khusus untuk mengamati sesuatu dan menatanya
sedemikian rupa sehingga menjadi bermakna dan dapat dipahami oleh kita. Faisal
(1991:104) mengemukakan bahwa makna adalah suatu istilah yang merujuk pada
totalitas dan bertujuan tersusun dari rangkaian unsur-unsur, elemen atau
komponen yang membentuk suatu arti tertentu. Sedangkan dalam kamus Bahasa
Indonesia, dikatakan bahwa makna adalah pengertian yang diberikan suatu
kebahasaan. Alwi (2005: 102) makna terbagi atas dua bagian yakni makna yang tersurat
dan makna yang tersirat. Makna tersurat adalah makna yang nyata dari yang
tertulis atau bahasa yang diucapkan, disebut juga dengan denotasi.
Secara etimologis, simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein”
yang berarti melemparkan bersama suatu (benda,perbuatan) dikaitkan dengan suatu
ide. (Hartoko & Rahmanto, 1998: 133), (dalam Sobur, 2009: 155). Ada pula
yang menyebutkan “symbolos”, yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan
sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 2000:10), (dalam Sobur,2009:155).
Biasanya simbol terjadi berdasarkan metonimi (metonimy), yakni nama untuk benda
lain yang berasosiasi atau menjadi atributnya (misalnya Si kaca mata untuk
sesorang yang berkaca mata) dan metafora (metaphor), yaitu pemakaian kata atau
ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan
(misalnya kaki gunung, kaki meja,berdasarkan kias pada kaki manusia)
(Kridalaksana,2001: 136-138), (dalam Sobur, 2009: 155). Semua simbol melibatkan
tiga unsur : simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih, dan hubungan antara
simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan dasar bagi semua makna
simbolik.
Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang
sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa, sedangkan semiotik
lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Semiotik berasal dari bahasa Yunani, yaitu
semeion yang mengandung pengertian “tanda” atau dalam bahasa Inggris sign yang
mengandung pengertian “sinyal”. Semiotika adalah suatu disiplin ilmuyang
menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana sign
“tanda-tanda” dan berdasarkan pada sign system (code) „sistem tanda‟ (Segers,
dalam sobur 2009: 16).
Menurut Charles Sanders Peirce (dalam Hoed, 2011: 4), para pragmatis
melihat tanda sebagai “sesuatu yang mewakili sesuatu”. Sesuatu itu dapat berupa
hal yang konkret (dapat ditangkap dengan pancaindra manusia), yang kemudian
melalui suatu proses, mewakili “sesuatu” yang ada didalam kognisi manusia.
Jadi, yang dilihat oleh peirce, tanda bukanlah suatu struktur, melainkan suatu
proses kognitif yang berasal dari apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
Dalam teorinya, “sesuatu” yang pertama− yang “konkret”− adalah sesuatu
“perwakilan” yang disebut representamen (ground), sedangkan “sesuatu” yang ada
di dalam kognisi disebut object.
Menurut Anton Soemarman (2003:15) menyatakan bahwa adat merupakan wujud
idil dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengaturan tingkah laku. Dalam
kebudayaan sebagai wujud idil kebudayaan dapat dibagi lebih khusus dalam empat
yakni: tingkat budaya, tingkat norma-norma, tingkat hukum dan aturan-aturan
khusus. Sedangkan menurut Arjono Suryono (1985: 4) bahwa adat merupakan
kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang
meliputi kebudayaan, norma dan aturan-aturan yang saling berkaitan dan kemudian
menjadi suatu sistem atau pengaturan tradisional.
Upacara adat tradisional masyarakat merupakan perwujudan dari sistem
kepercayaan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai universal yang dapat
menunjang kebudayaan nasional. Upacara tradisional ini bersifat kepercayaan
yang dianggap sakral dan suci, dimana setiap aktifitas manusia selalu mempunyai
maksud dan tujuan yang ingin dicapai, termasuk kegiatan-kegiatan yang bersifat
religius. Upacara adat tradisional merupakan kelakuan atau tindakan simbolis
manusia sehubungan dengan kepercayaan yang mempunyai maksud dan tujuan untuk
menghindarkan dari gangguan roh-roh jahat.
Upacara adat terdiri dari dua kata yaitu “upacara” dan “adat”. Upacara
adalah sistem aktifitas atau rangkaian atau tindakan yang ditata oleh adat atau
hukum yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat,
1980:140). Sedangkan Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari
nilai-nilai, norma-norma, hukum, serta aturan-aturan yang sama dengan yang
lainnya berkaitan menjadi suatu sistem yaitu sistem budaya. Masyarakat Sulawesi
Tengah mengenal berbagai macam upacara tradisional yang berkaitan dengan religi
dan kepercayaan. Namun upacara tradisonal ini ada yang masih eksis hingga sekarang
dan adapula yang tidak dilaksanakan lagi.
Jenis-jenis Balia
Balia Jinja
Menurut keterangan yang diperoleh peneliti dari sando atau dukun, akhir
proses upacara sesajian berupa makanan yang ditaruh diatas perahu yang terbuat
dari pelepah pohon sagu kemudian dilarung atau dihanyutkan ke sungai atau laut.
Tata cara pelaksanaan balia jinja yang oleh masyarakat disebut pasukan
pengepung penyakit, yaitu dukun beserta anggota lainnyaduduk mengelilingi
penderita, lengkap dengan alat pengobatan.
Balia Tampilangi
Tampilangi terdiri dari dua kata yaitu Tampi dan Langi. Tampi artinya
tombak dan langi artinya kekuasaan. Jadi, Tampilangi artinya kekuasaan tombak
atau pasukan tombak sakti dari langit merupakan upacara pemulihan kesehatan
yang dilakukan makhluk halus yang diyakini masyarakat sebagai pasukan gerak
cepat, turun dari kayangan, terus maju pantang mundur dan sanggup menghadapi
tantangan penyakit yang berat, jenis balia ini disebut balia pemberani bila
dibandingkan dengan balia-balia yang lain pada suku kaili.
Balia Bone
Balia bone merupakan upacara penyembuhan penyakit yang dibantu dengan
makhluk halus yang cukup banyak, sehingga masyarakat mengibaratkan sebagai
prajurit kesehatan yang terbesar. Cara pengobatan balia bone hampir saja dengan
balia tampilangi yaitu memuja dewa api dengan cara menari diatas bara api
dengan kaki telanjang, hanya saja irama musik yang menyertainya lebih lembut.
Balia Ntorudu
Balia Ntorudu adalah suatu upacara penyembuhan penyakit yang dibantu oleh
makhluk halus.Cara pengobatan balia ntorudu ini hampir sama dengan balia bone
dan tampilangi alat hanya saja yang membedakan adalah yang digunakan alat musik
yang digunakan hanya sebuah gendang saja.
Balia Tomini
Balia tomini adalah suatu upacara penyembuhan penyakit dengan cara
memainkan alat musik sebagai pemanggil arwah nenek moyang dan makhluk halus.
Para anggota balia menari berputar mengelilingi perahu yang sudah diisi
sesajian. Alat musik yang digunakan adalah satu buah gendang (gimba), satu buah
suling (lalove), dan sebuah gong (goo).
Balia Baliore
Menurut Samran Baliore terdiri dari dua kata yaitu “bali” yaitu lawan dan
“ore” artinya menaikkan atau meninggikan. Jadi, pengertian secara utuh Baliore
yaitu melawan setan dengan cara meninggikan suara nyanyian yang berupa mantra
untuk memanggil arwah nenek moyang maupun penghuni alam gaib. Dalam pelaksanaan
upacara baliore, dukun menyanyikan mantra-mantra (gane) kemudian diikuti oleh
oleh seluruh anggota balia. Mantra yang diucapkan tergantung maksud dan tujuan
balia baliore tersebut.
METODE
Pendekatan dan Jenis penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif.
Dimana metode yang sumber datanya berupa kata-kata atau pernyataan-pernyataan
yang diperoleh melalui wawancara, dokumen, angket terbuka, observasi, catatan lapangan,
dan lain-lain dan data tersebut dianalisis secara kualitatif dan mengkajinya
dengan ilmu semiotik dengan tujuan untuk menemukan makna dibalik peristiwa yang
tampak.
Lokasi penelitian atau tempat pengambilan data adalah Kelurahan Balaroa,
kecamatan Palu Barat. Pemilihan lokasi ini adalah berdasarkan ketersediaan data
yang peneliti perlukan sesuai dengan masalah pokok penelitian di lokasi
tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian
sekaligus pengumpul data. Posisi sebagai instrumen tidak dapat dihindari, sebab
kegiatan pengumpulan data tidak dapat dilakukan melalui perantara. Peneliti
berhubungan langsung dengan simbol sebagai sumber data. Peneliti terjun secara
langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang dibutuhkan
dengan terlebih dahulu sudah memiliki beberapa pedoman yang akan dijadikan alat
bantu mengumpulkan data yaitu berupa alat rekam dan alat pencatat serta
peneliti menggunakan dokumentasi sebagai pelengkap dari penelitian ini.
Data adalah keterangan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan
penelitian. Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data lisan yang
diperoleh dari informan, yaitu tokoh adat, dukun atau sando, dan tokoh
masyarakat yang kompeten yang mengetahui secara jelas tentang objek penelitian
yang dilakukan peneliti.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode
cakap. Metode simak adalah metode untuk memperoleh data dilakukan dengan cara
menyimak penggunaan bahasa. Menyimak disini tidak hanya berkaitan dengan
penggunaan bahasa secara lisan tetapi penggunaan bahasa secara tertulis. Metode
cakap adalah cara yang ditempuh dalam pengumpulan data adalah percakapan antara
peneliti dengan informan. Adanya percakapan antara peneliti dengan informan mengandung
arti terdapat kontak antar mereka. Karena itulah data yang diperoleh melalui
penggunaan bahasa secara lisan. Untuk memperoleh data dan informasi yang sesuai
dengan permasalahan yang diteliti, maka peneliti menggunakan teknik studi
lapangan (Field Research). Studi lapangan (Field Research) yaitu pengumpulan
data secara langsung dilapangan dengan menggunakan beberapa teknik yaitu:
HASIL DAN PEMBAHASAN
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nompairomu
Nompairomu atau masiromu merupakan kegiatan awal dari pelaksanaan upacara
adat, seluruh anggota balia berkumpul bersama-sama di rumah tempat pelaksanaan
upacara adat. Pada tahapan awal ini dukun dan para anggota balia bersama-sama
menunggu anggota balia yang lainnya yang belum datang, apabila sudah terkumpul
barulah pemimpin upacara adat (dukun) menghamburkan beras kuning kepada seluruh
anggota balia kemudian mulai melantunkan mantra atau gane untuk tahapan
berikutnya. Dalam tahapan ini terdapat simbol verbal dan nonverbal,
Makna Simbolik upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nompakende Joa
Nompakande Joa adalah tahapan memberi sesajen sebagai makanan yang
disajikan khusu kepada penghuni alam gaib atau makhluk gaib yang ada disekitar
rumah tempat pelaksanaan upacara adat yang bertugas sebagai pengawal dan
bertujuan untuk mengawasi jalannya ritual adat dari tahap awal hingga akhir.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosore Vayo
Setelah ritual mompakande joa selesai dilaksanakan dukun, anggota balia dan
masyarakat yang mengikuti jalannya prosesi tersebut kembali ke rumah tempat
pelaksanaan upacara adat, sesampainya di rumah dukun beserta angota balia
memasuki rumah tempat pelaksanaan ritual kemudian duduk bersila mengelilingi
tiang utama rumah setelah itu melakukan tahapan berikutnya yaitu mosore vayo.
Pada tahapan mosore vayo tersebut dukun kembali menyanyikan gane atau mantra
dan kemudian diikuti oleh seluruh anggota balia.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Mompesule Manu
Mompesule manu adalah tahapan pemotongan Ayam jantan yang masih muda yang
dilakukan oleh bule (pembantu utama sando), kemudian ayam yang sudah dipotong
tersebut dipisahkan menjadi dua bagian untuk melihat hati ayam. Menurut bapak
Masrin Judin jika hati ayam rusak (hancur,busuk, atau timbul bercak-bercak)
sebagai petanda bahwa dalam pelaksanaan upacara adat akan mengalami hambatan
dan berbagai kesulitan yang tidak terduga, hal tersebut dikarenakan pemilik
hajatan atau tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan tersebut hati mereka tidak
ikhlas untuk menyelenggarakan upacara adat, sebaliknya jika hati ayam tampak
bersih dan tidak rusak menandakan bahwa dalam pelaksanaan upacara adat akan
berjalan lancar sesuai dengan rencana tanpa mengalami hambatan dan
gangguan-gangguan, hal tersebut dikarenakan keluarga atau tuan rumah yang
menyelenggarakan hajatan upacara adat hati mereka ikhlas dan menyanggupi semua
syarat-syarat yang harus dipersiapkan dalam upacara adat. Setelah melihat hati
ayam yang dilakukan oleh pemimpin upacara adat dan seorang bule, pemimpin
upacara adat atau dukun mengikatkan manik-manik atau Botiga disalah satu tangan
bule. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol nonverbal, adapun simbol-simbol
nonverbal.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nombangu Tava Kayu
Nombangu Tava Kayu adalah mendirikan berbagai macam daun kayu, kemudian di
ikat bersama dengan kapak, tombak, dan parang di tiang utama rumah. Selain itu
dibawah tiang utama rumah juga sudah disediakan berbagai macam sesajen dan
parupalangga baru untuk digunakan dalam tahapan berikutnya. Pada tahapan
nombangu tava kayu ini berbagai macam daun kayu, tombak, kapak dan parang yang
sudah diikat di tiang utama rumah kemudian dibungkus dengan kain putih sebagai
petanda bahwa semua yang terlibat dalam ritual tersebut berhati tulus dan suci.
Dalam tahapan ini pemimpin upacara adat membacakan mantra yang berisi
pemanggilan kepada penghuni alam gaib dan roh nenek moyang agar datang dan
melihat ritual adat tersebut, selain itu pemimin upacara adat juga meminta kepada
Allah SWT agar diberi kesehatan, umur panjang, dan kekuatan selama pelaksanaan
ritual dari tahap awal hingga akhir.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nangande ka Ada
Nangande ka ada artinya makan bersama untuk pelaksanaan upacara adat. Pada
tahapan tuan rumah menyuguhkan makanan untuk pemimpin upacara adat (dukun) dan
kepada seluruh anggota balia untuk santap bersama. Selain itu, para tamu
undangan maupun masyarakat yang hanya sekedar datang melihat jalannya upacara
adat juga disuguhkan makanan. Makan bersama pada upacara adat ini merupakan
wujud kebersamaan, saling menghargai, dan menghormati dalam kebersamaan. Dalam
tahapan ini penyajian makanan disajikan di dua tempat yang berbeda yaitu
makanan yang disajikan di dulang berkaki dan makanan yang disajikan di baki.
Pada tahapan ini tidak ada mantra yang dibacakan, jadi yang nampak pada tahapan
ini hanya simbol nonverbal saja.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosunggilama pamula
Setelah selesai makan untuk adat kemudian dilanjutkan dengan tahapan
berikutnya yaitu nosunggilama pamula. Nosunggilama pamula adalah melantunkan
mantra atau gane yang dinyayikan berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama.
Pada mantra atau gane menyebut-nyebut semua nama penghuni alam gaib, roh nenek
moyang, Dewa dari kayangan sebagai ungkapan permohonan maaf dan memohon
pertolongan agar mereka bersama-sama mendampingi dukun dan anggota balia pada
saat pelaksanaan ritual ini. Dalam tahapan ini juga disediakan berbagai macam
isi sesajen, jaka, potampari, parupalangga baru, siranindi, diletakkan
mengelilingi tiang utama rumah, dan sambulu gana masing-masing diletakkan
didepan seluruh anggota balia sebagai wujud penghargaan tuan rumah dan
digunakan sebagai syarat wajib dalam pelaksanaan upacara adat (hasil wawancara
dengan bapak Masi).
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noisi Sakaya
Noisi Sakaya yaitu tahapan pengisian perahu dengan berbagai macam sesajen .
Isi sesajen tersebut adalah : Loka dano (pisang gapi), Cicuru (kue cucur),
Katupa (ketupat), Kandea patangaya (nasi ketan empat warna yaitu merah, putih,
kuning, dan hitam), Ntalu daka (telur rebus),
Kaluku tueina (kelapa muda), Manu tunu samba (ayam bakar utuh), Ate Bimba
nidaka (hati domba yang dikukus), Epu-epu (kue moci), Balengga Bimba (kepala
Domba), Manu kodi ( anak ayam yang masih hidup), Poyu kaluku (nira kelapa).
Semua isi sesajen dan kain kuning penutup parupalangga yang lama diletakkan
dalam perahu. Sesajen tersebut dipersembahkan kepada penghuni laut yang
sedangkan kain kuning di bawa ke tengah laut agar tidak ada orang yang
mengambilnya, karena konon katanya kain penutup parupalangga mempunyai
penunggunya dan Perahu yang berisi sesajen juga bertujuan membawa semua
penyakit, malapetaka, bahaya, maupun bencana ke tempat yang jauh dalam bahasa
kaili nompaura. Dalam tahapan ini tidak ada mantra yang dibacakan dan hanya
terdapat simbol-simbol nonverbal saja.
Makna Simbolik Upacra Adat Baalia Baliore dalam Tahapan Nompopolivo Sakaya
Nompopolivo sakaya adalah tahapan mempersiapkan perahu yang di bawa ke
pesisir pantai teluk Palu untuk dilarang. Sebelum membawa perahu pemimpin
upacara adat (dukun) membaca mantra atau gane yang berisi permohonan ampun,
permohonan pertolongan kepada Allah SWT dan roh para leluhur serta memohon
restu dari para penghuni alam gaib dalam mempersiapkan perahu yang dibawa ke
pesisir pantai untuk dilarung.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noavesaka sakaya
Noavesaka Sakaya yaitu tahapan pelarungan perahu, tahapan ini merupakan
puncak dari seluruh upacara adat. Pada tahapan ini dukun membaca mantra yang
berisi penyerahan perahu yang sudah siap dilarungkan dan diserahkan kepada para
penghuni laut, agar mereka membantu membawa membawa perahu pada saat berlayar
hingga ke lautan luas. Selain itu mantra tersebut berisi permohonan pamit
kepada para leluhur, memohon keselamatan, umur panjang dan selalu diberi
kekuatan dari Allah SWT setelah upacara adat ini selesai. Konon perahu yang
membawa sesajen tersebut sudah membawa hal-hal buruk sebagai penolak bala, agar
dibawa atau dibuang ke tempat lain atau kenegeri lain.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosore Vayo setelah
Pelarungan
Nosore vayo adalah tahapan pemanggilan bayangan setelah pelarungan perahu,
kemudian pemimpin upacara adat, anggota balia dan semua orang yang ikut serta
pada saat pelarungan perahu, kembali ke rumah tempat pelaksananaan upacara
adat. Pada tahapan ini para pelaku balia duduk bersila dan berbentuk lingkaran
di halam rumah tempat pelaksanaan upacara adat untuk kembali menyanyikan
mantra. Mantra dalam tahapan ini bertujuan memanggil bayangan semua orang yang
ikut serta pada saat pelarungan perahu agar jangan sampai tertinggal di pinggir
pantai atau mengikuti perahu berlayar ke tengah laut, bagi masyarakat biasa
nosore vayo ini berfungsi agar jangan sampai “keteguran”. (Hasil wawancara
dengan bapak Masi)
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nodungganaka Tava
Kayu
Setelah selesai Nosore vayo dukun dan anggota balia lainnya beristirahat
sekitar empat jam kemudian dilanjutkan pada tahapan berikutnya yaitu tahapan
nodungganaka tava kayu. Pada tahapan ini daun kayu yang diikat di tiang induk
rumah dilepas dari ikatannya dengan diiringi nyanyian mantra, tahapan ini menandakan
bahwa semua prosesi upacara adat akan segera berakhir. (Hasil wawancara dengan
Samran Daud).
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noporo ri Vamba
Noporo ri Vamba adalah memukul-mukul daun kayu kepada seluruh anggota
keluarga yang membuat hajatan di depan pintu rumah yang dilakukan oleh dukun
dan anggota balia. Salah seorang dari anggota keluarga duduk diatas boko-boko
yang diatasnya sudah diletakkan Silaguri, dan Patoko. Hal tersebut diyakini
bertujuan agar setiap anggota keluarga setelah pelaksanaan upacara adat selesai
mendapat kesehatan, kekuatan dan keteguhan hati.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baaliore dalam Tahapan Nangande ka ada
kaupuna
Nangande ka ada kaupuna adalah makan bersama untuk upacara adat pada tahap
akhir. Pada tahapan ini tata cara pelaksanaann dan tujuanya sama dengan
nangande ka ada sebelumnya. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol nonverbal
saja.
Makna SimbolikUpacara Adat Balia Baliovre dalam Tahapan Nosunggilama
Kaupuna
Nosunggilama kaupuna adalah tahapan akhir dari pembacaan mantra.
Pada tahapan ini doa-doa yang dilantunkan hampir sama dengan dengan
nosunggi lama sebelumnya. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol verbal yaitu
mantra yang dinyanyikan oleh para pelaku balia.
Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nocera
Nocera adalah tahapan pengukuhan dari seluruh rangkaian upacara adat yang
dilaksanakan. Pada tahapan ini pengukuhannya di tandai dengan pengambilan darah
di jambul ayam jantan yang dilakukan oleh pemimpin upacara adat (dukun) untuk
di gosokkan pada parupalangga, sesajen, potampari yang diletakkan dibawah tiang
induk rumah.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Menurut bapak Samran Daud dalam upacara Adat Balia Baliore terdapat
sembilan belas tahapan, yaitu nompairomu, nompakande joa, nosore vayo
nompakande joa, nompesule manu, nombangu tava kayu, nangande ka ada, nosunggi
lama pamula, no isi sakaya, nompopolivo sakaya, noavesaka sakaya, no dungganaka
tava kayu, noporo ri vamba, nangande ka ada kaupuna, nosunggi lama kaupuna,
nocera, nombaca doa salama, nobagi poloya, novonto potampari. Setiap tahapan
dalam upacara terdapat simbol verbal dan nonverbal yang sarat makna.
Rekomendasi
Di Indonesia banyak keragaman budaya dan adat istiadat dari berbagai suku
yang merupakan bagian dari kekayaan bagi negara Indonesia itu sendiri. Makna
simbolik merupakan suatu hal yang digunakan oleh masyarakat kaili dalam upacara
adat yang bertujuan untuk menolak bala. Pelaksanaan upacara adat balia Baliore
patutlah dipertahankan dan dikembangkan agar dapat berlangsung terus menurus
sebagai warisan budaya lokal. Oleh karena itu , dapat dijadikan sebagai:
1. Sebagai sumber reverensi atau bahan bacaan baik ditingkat sekolah mapun
perguruan tinggi.
2. Diharapkan hasil penelitian ini, dapat ditingkatkan hasilnya untuk
pengembangan ilmu pengetahuan menyangkut pengembangan budaya.
3. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengajaran sastra atau
materi pembelajaran.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, atas limpahan rahmat
dan taufik-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan Nabi Muhammad Saw, keluarganya serta para sabahat dan pengikut setia
hingga akhir zaman. Penulisan artikel ini, tidak akan mencapai target sebuah
karya tulis ilmiah tanpa bantuan dan arahan (petunjuk) dan berbagai pihak
khususnya, Bapak Dr. Ali Karim, M. Hum., dan Dr. Moh Tahir, M.Hum.,
masing-masing sebagai ketua dan anggota tim pembimbing dengan penuh kesabaran
dan ketulusan telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran,
dorongan, hingga penyelesaian arikel ini.
DAFTAR RUJUKAN
Abubakar, Jamrin. (Tanpa Tahun). Mengenal Budaya dan Masyarakat Lembah
Palu. Sulawesi Tengah.: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah.
Abubakar, Jamrin. 2010. Orang Kaili Gelisah. Sulawesi Tengah: Yayasan
Kebudayaan Sulawesi Tengah.
Ali, Sulastri. M. dan Jasrum. dkk. 2000. Benda Atribut Sebagai Simbol
Status Sosial. Sulawesi Tengah: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Tengah.
Ali, Sulastri. M. dan Jasrum. dkk. 2000. Upacara Adat Balia Suku Kaili.
Sulawesi Tengah: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Tengah.
Alwi. 2005. Analisis Makna dan Masyarakat. Bandung: Angkasa.
Aminuddin. 2011. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Asrul. 2010. Mengenal Suku dan Etnis di Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah:
Quanta Press.
Danesi, Marcel.2012. Pesan, Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai
Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
De Saussure, F. (1857-1913). Kajian Semiotik. [online]. Tersedia:
http://id.wikimedia.org/wiki/etimologi-semiotik. Diakses Pukul 15.19 Pada
tanggal 14 april 2016.
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeunetika. Yogyakarta:
Paradigma.
Koentjaraningrat. 1980. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian
Rakyat.
Misnah. 2010. Mengenal Kebudayaan Balia (Upacara Adat Balia di Sulawesi
Tengah). Sulawesi Tengah: Quanta Press.
Sumber : https://jurnal.pasca.untad.ac.id/index.php/bahasantodea/article/download/823/464/
0 komentar:
Posting Komentar