Kamis, 27 Maret 2025

MAKNA SIMBOLIK UPACARA ADAT BALIA BALIORE PADA SUKU KAILI (KAJIAN SEMIOTIK)

 

MAKNA SIMBOLIK UPACARA ADAT BALIA BALIORE

PADA SUKU KAILI (KAJIAN SEMIOTIK)

 

Oleh : FITRI NURFANI

          Setiap kebudayaan memiliki ciri masing-masing. Ada ciri bahasa, pakaian adat, makanan khas, upacara adat serta simbol-simbol yang terdapat dalam upacara adat tersebut. Kebudayaan berasal dari bahasa Belanda cultuur, yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan,terutama mengolah tanah atau bertani. Jadi, kebudayaan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan tertentu. Semua kelompok masyarakat pasti memiliki kebudayaan, karena manusia merupakan subjek budaya, yang berbeda hanyalah tingkat dan taraf kebudayaan yang dipunyai oleh masing-masing kelompok manusia atau masyarakat. Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang terdapat di negara Indonesia dan didiami oleh beragam suku bangsa, antara lain: suku Kaili, suku Bugis, dan suku Jawa. Suku Kaili merupakan salah satu suku asli dari Sulawesi Tengah dan merupakan kelompok etnik yang terbesar jumlah serta penyebarannya dalam seluruh wilayah propinsi yang amat luas. Menurut Mattulada, To Kaili (orang Kalili) pada dewasa ini menempati jumlah terbesar yang mendiami daerah kabupaten dan daerah tingkat II Donggala, dan sebagian lainnya bermukim di beberapa wilayah kecamatan dalam daerah kabupaten lainnya. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kelompok-kelompok etnik dalam subkultur Kaili dapat dikatakan telah menjadi subetnik Kaili dalam pernyataan-pernyataan kultural, pada dewasa ini dapat disebut sesuai dengan nama tempat pemukimannya seperti: (1) To-Palu (To-ri-Palu), (2) To- Biromaru (To-ri- Biromaru), (3) To- Dolo (To-ri Dolo), dan seterusnya.

          Salah satu aspek budaya dari sejumlah aspek budaya etnik Kaili, antara lain meliputi beberapa upacara tradisional yang berkaitan dengan emosi keagamaan (religius emotion), maupun kepercayaan yang titik berat dan uraiannya menyangkut tata sajian dalam upacara tersebut hingga saat ini masih dipergunakan pada saat-saat tertentu. Balia mengandung makna sebagai upacara penyembuhan penyakit, sebagai alternatif apabila si sakit terkena jampi-jampi atau ilmu sihir, atau ditegur oleh makhluk halus. Menurut Samran Daud, selaku pemangku adat mengatakan bahwa Balia mempunyai beberapa fungsi dan tujuan, antara lain : (1) sebagai upacara penyembuhan penyakit, (2)sebagai penolak bala (Pompaura) yaitu dapat menghindarkan dari segala bencana dan malapetaka, (3) digunakan untuk pelantikan bagi sando muda yang akan menggantikan sando yang sudah tua (nompoponturo). Selanjutnya Samran Daud menyatakan upacara adat Balia merupakan induk dari upacara adat tradisional yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan suku kaili. Pada suku kaili dikenal berbagai macam jenis balia yang tentunya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, sebagai contoh yaitu: (1) Balia Tampilangi Ulujadi yaitu balia yang tata cara pelaksanaannya hanya diperuntukkan sebagai upacara penyembuhan penyakit, dengan memberikan persembahan hewan kurban berupa Ayam, Kambing, Babi, ataupun Kerbau, tergantung dari tingkatan kebutuhan dalam upacara adat itu sendiri. (2) Balia Tampilangi Tomataeo yaitu balia yang digunakan untuk upacara penyembuhan penyakit dan penolak bala. Dalam upacara adat balia ini menggunakan hewan kurban sama seperti balia Tampilangi Ulujadi hanya yang membedakan daging hewan persembahan dapat dimakan. (3) Balia Ntorudu yaitu balia yang digunakan untuk penyembuhan penyakit, yang tata cara pelaksanaannya hampir sama dengan balia tampilangi dengan cara menginjak bara api. (4) Balia Jinja yaitu balia yang digunakan untuk penyembuhan penyakit dengan cara memainkan alat musik yang terdiri dari dua buah gendang (gimba), satu buah gong (goo), dan tiga buah seruling (lalove). Alat musik tersebut digunakan untuk memanggil arwah para leluhur ataupun makhluk gaib. (5) Balia Tomini yaitu upacara adat yang digunakan untuk penyembuhan penyakit, yang tata cara pelaksaannya hampir sama dengan balia jinja, hanya saja alat musik yang digunakan yaitu satu buah gendang (gimba), satu buah seruling (lalove) dan satu buah gong (goo). (6) Balia Baliore yaitu upacara adat yang digunakan sebagai penyembuhan penyakit, penolak bala, maupun digunakan sebagai pelantikan sando muda (nompoponturo).

Berdasarkan berbagai macam balia beserta fungsi dan tujuannya, peneliti memilih satu jenis Balia, yaitu Balia Baliore yang bertujuan untuk menolak bala dalam bahasa kaili tula’bala (pompaura). Dalam bahasa kaili kata tula‟bala mengandung arti “tula” artinya tolak dan “ bala” artinya penyakit, petaka,bencana, dan lain sebagainya. Jadi, tula‟bala (pompaura) mengandung pengertian menolak bahaya, malapetaka, dan bencana yang akan terjadi, sedang terjadi, dan telah terjadi untuk tidak terulang kembali.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kajian semiotik karena semiotik merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda yang mempunyai makna. Dalam upacara ritual balia khususnya pada Balia Baliore terdapat simbol-simbol yang sarat makna yang perlu diketahui dan dilestarikan. Berdasarkan uraian di atas, penulis menarik kesimpulan, memilih, dan menetapkan judul Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore Suku Kaili (Kajian Semiotik). Adapun yang melatarbelakangi judul penelitian ini yaitu: 1). Upacara adat Balia pada suku Kaili khususnya balia baliore penolak bala penting untuk diketahui oleh generasi muda dalam usaha mempertahankan dan melestarikan adat istiadat sebagai bagian integral di kebudayaan Sulawesi Tengah,

 

mengingat dengan adaya kemajuan dan perkembangan teknologi mempengaruhi cara berpikir generasi muda. 2). Upacara adat Balia Baliore penuh dengan simbol-simol yang sarat akan makna sehingga perlu dikaji secara mendalam sebagai warisan leluhur etnik Kaili yang memiliki nilai budaya yang tinggi.3). Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan dapat memperoleh informasi dan pengetahuan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan etnik kaili khususnya makna simbolik dalam upacara adat balia baliore pada suku Kaili.

Makna merupakan model konseptual paling umum diakui dan dipakai oleh para ahli baik dalam bidang sosial maupun eksakta didalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Makna dimaksudkan membantu untuk menjelaskan tentang sesuatu hal. Makna tersebut berangkat dari pandangan kelompok-kelompok manusia yang merupakan suatu sistem. Makna suatu hal dalam masyarakat pada umumnya juga merupakan suatu keyakinan dan itu akan diterima melalui suatu cara tertentu. Proses penerimaan ini melalui apa yang disebut dengan pengesahan dan pemetaan pengetahuan, keduanya tidak lain hanya merupakan suatu metode pengujian yang dianggap perlu atau memadai oleh para warga suatu sistem sosial untuk melahirkan suatu keyakinan. Seorang sosiolog Bertrand (1990: 29) memandang bahwa makna merupakan suatu wawasan dalam sosiologi atau sebagai suatu model konseptual yang paling umum diakui dan digunakan dalam sosiologi. Suatu wawasan adalah suatu sudut pandang suatu cara khusus untuk mengamati sesuatu dan menatanya sedemikian rupa sehingga menjadi bermakna dan dapat dipahami oleh kita. Faisal (1991:104) mengemukakan bahwa makna adalah suatu istilah yang merujuk pada totalitas dan bertujuan tersusun dari rangkaian unsur-unsur, elemen atau komponen yang membentuk suatu arti tertentu. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa makna adalah pengertian yang diberikan suatu kebahasaan. Alwi (2005: 102) makna terbagi atas dua bagian yakni makna yang tersurat dan makna yang tersirat. Makna tersurat adalah makna yang nyata dari yang tertulis atau bahasa yang diucapkan, disebut juga dengan denotasi.

Secara etimologis, simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu (benda,perbuatan) dikaitkan dengan suatu ide. (Hartoko & Rahmanto, 1998: 133), (dalam Sobur, 2009: 155). Ada pula yang menyebutkan “symbolos”, yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 2000:10), (dalam Sobur,2009:155). Biasanya simbol terjadi berdasarkan metonimi (metonimy), yakni nama untuk benda lain yang berasosiasi atau menjadi atributnya (misalnya Si kaca mata untuk sesorang yang berkaca mata) dan metafora (metaphor), yaitu pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan (misalnya kaki gunung, kaki meja,berdasarkan kias pada kaki manusia) (Kridalaksana,2001: 136-138), (dalam Sobur, 2009: 155). Semua simbol melibatkan tiga unsur : simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih, dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan dasar bagi semua makna simbolik.

Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa, sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Semiotik berasal dari bahasa Yunani, yaitu semeion yang mengandung pengertian “tanda” atau dalam bahasa Inggris sign yang mengandung pengertian “sinyal”. Semiotika adalah suatu disiplin ilmuyang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana sign “tanda-tanda” dan berdasarkan pada sign system (code) „sistem tanda‟ (Segers, dalam sobur 2009: 16).

Menurut Charles Sanders Peirce (dalam Hoed, 2011: 4), para pragmatis melihat tanda sebagai “sesuatu yang mewakili sesuatu”. Sesuatu itu dapat berupa hal yang konkret (dapat ditangkap dengan pancaindra manusia), yang kemudian melalui suatu proses, mewakili “sesuatu” yang ada didalam kognisi manusia. Jadi, yang dilihat oleh peirce, tanda bukanlah suatu struktur, melainkan suatu proses kognitif yang berasal dari apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Dalam teorinya, “sesuatu” yang pertama− yang “konkret”− adalah sesuatu “perwakilan” yang disebut representamen (ground), sedangkan “sesuatu” yang ada di dalam kognisi disebut object.

Menurut Anton Soemarman (2003:15) menyatakan bahwa adat merupakan wujud idil dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengaturan tingkah laku. Dalam kebudayaan sebagai wujud idil kebudayaan dapat dibagi lebih khusus dalam empat yakni: tingkat budaya, tingkat norma-norma, tingkat hukum dan aturan-aturan khusus. Sedangkan menurut Arjono Suryono (1985: 4) bahwa adat merupakan kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi kebudayaan, norma dan aturan-aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau pengaturan tradisional.

Upacara adat tradisional masyarakat merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai universal yang dapat menunjang kebudayaan nasional. Upacara tradisional ini bersifat kepercayaan yang dianggap sakral dan suci, dimana setiap aktifitas manusia selalu mempunyai maksud dan tujuan yang ingin dicapai, termasuk kegiatan-kegiatan yang bersifat religius. Upacara adat tradisional merupakan kelakuan atau tindakan simbolis manusia sehubungan dengan kepercayaan yang mempunyai maksud dan tujuan untuk menghindarkan dari gangguan roh-roh jahat.

Upacara adat terdiri dari dua kata yaitu “upacara” dan “adat”. Upacara adalah sistem aktifitas atau rangkaian atau tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1980:140). Sedangkan Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai, norma-norma, hukum, serta aturan-aturan yang sama dengan yang lainnya berkaitan menjadi suatu sistem yaitu sistem budaya. Masyarakat Sulawesi Tengah mengenal berbagai macam upacara tradisional yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan. Namun upacara tradisonal ini ada yang masih eksis hingga sekarang dan adapula yang tidak dilaksanakan lagi.

Jenis-jenis Balia

Balia Jinja

Menurut keterangan yang diperoleh peneliti dari sando atau dukun, akhir proses upacara sesajian berupa makanan yang ditaruh diatas perahu yang terbuat dari pelepah pohon sagu kemudian dilarung atau dihanyutkan ke sungai atau laut. Tata cara pelaksanaan balia jinja yang oleh masyarakat disebut pasukan pengepung penyakit, yaitu dukun beserta anggota lainnyaduduk mengelilingi penderita, lengkap dengan alat pengobatan.

Balia Tampilangi

Tampilangi terdiri dari dua kata yaitu Tampi dan Langi. Tampi artinya tombak dan langi artinya kekuasaan. Jadi, Tampilangi artinya kekuasaan tombak atau pasukan tombak sakti dari langit merupakan upacara pemulihan kesehatan yang dilakukan makhluk halus yang diyakini masyarakat sebagai pasukan gerak cepat, turun dari kayangan, terus maju pantang mundur dan sanggup menghadapi tantangan penyakit yang berat, jenis balia ini disebut balia pemberani bila dibandingkan dengan balia-balia yang lain pada suku kaili.

Balia Bone

Balia bone merupakan upacara penyembuhan penyakit yang dibantu dengan makhluk halus yang cukup banyak, sehingga masyarakat mengibaratkan sebagai prajurit kesehatan yang terbesar. Cara pengobatan balia bone hampir saja dengan balia tampilangi yaitu memuja dewa api dengan cara menari diatas bara api dengan kaki telanjang, hanya saja irama musik yang menyertainya lebih lembut.

Balia Ntorudu

Balia Ntorudu adalah suatu upacara penyembuhan penyakit yang dibantu oleh makhluk halus.Cara pengobatan balia ntorudu ini hampir sama dengan balia bone dan tampilangi alat hanya saja yang membedakan adalah yang digunakan alat musik yang digunakan hanya sebuah gendang saja.

Balia Tomini

Balia tomini adalah suatu upacara penyembuhan penyakit dengan cara memainkan alat musik sebagai pemanggil arwah nenek moyang dan makhluk halus. Para anggota balia menari berputar mengelilingi perahu yang sudah diisi sesajian. Alat musik yang digunakan adalah satu buah gendang (gimba), satu buah suling (lalove), dan sebuah gong (goo).

Balia Baliore

Menurut Samran Baliore terdiri dari dua kata yaitu “bali” yaitu lawan dan “ore” artinya menaikkan atau meninggikan. Jadi, pengertian secara utuh Baliore yaitu melawan setan dengan cara meninggikan suara nyanyian yang berupa mantra untuk memanggil arwah nenek moyang maupun penghuni alam gaib. Dalam pelaksanaan upacara baliore, dukun menyanyikan mantra-mantra (gane) kemudian diikuti oleh oleh seluruh anggota balia. Mantra yang diucapkan tergantung maksud dan tujuan balia baliore tersebut.

METODE

Pendekatan dan Jenis penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif. Dimana metode yang sumber datanya berupa kata-kata atau pernyataan-pernyataan yang diperoleh melalui wawancara, dokumen, angket terbuka, observasi, catatan lapangan, dan lain-lain dan data tersebut dianalisis secara kualitatif dan mengkajinya dengan ilmu semiotik dengan tujuan untuk menemukan makna dibalik peristiwa yang tampak.

Lokasi penelitian atau tempat pengambilan data adalah Kelurahan Balaroa, kecamatan Palu Barat. Pemilihan lokasi ini adalah berdasarkan ketersediaan data yang peneliti perlukan sesuai dengan masalah pokok penelitian di lokasi tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Posisi sebagai instrumen tidak dapat dihindari, sebab kegiatan pengumpulan data tidak dapat dilakukan melalui perantara. Peneliti berhubungan langsung dengan simbol sebagai sumber data. Peneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang dibutuhkan dengan terlebih dahulu sudah memiliki beberapa pedoman yang akan dijadikan alat bantu mengumpulkan data yaitu berupa alat rekam dan alat pencatat serta peneliti menggunakan dokumentasi sebagai pelengkap dari penelitian ini.

Data adalah keterangan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan penelitian. Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data lisan yang diperoleh dari informan, yaitu tokoh adat, dukun atau sando, dan tokoh masyarakat yang kompeten yang mengetahui secara jelas tentang objek penelitian yang dilakukan peneliti.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap. Metode simak adalah metode untuk memperoleh data dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa. Menyimak disini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan tetapi penggunaan bahasa secara tertulis. Metode cakap adalah cara yang ditempuh dalam pengumpulan data adalah percakapan antara peneliti dengan informan. Adanya percakapan antara peneliti dengan informan mengandung arti terdapat kontak antar mereka. Karena itulah data yang diperoleh melalui penggunaan bahasa secara lisan. Untuk memperoleh data dan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka peneliti menggunakan teknik studi lapangan (Field Research). Studi lapangan (Field Research) yaitu pengumpulan data secara langsung dilapangan dengan menggunakan beberapa teknik yaitu:

HASIL DAN PEMBAHASAN

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nompairomu

Nompairomu atau masiromu merupakan kegiatan awal dari pelaksanaan upacara adat, seluruh anggota balia berkumpul bersama-sama di rumah tempat pelaksanaan upacara adat. Pada tahapan awal ini dukun dan para anggota balia bersama-sama menunggu anggota balia yang lainnya yang belum datang, apabila sudah terkumpul barulah pemimpin upacara adat (dukun) menghamburkan beras kuning kepada seluruh anggota balia kemudian mulai melantunkan mantra atau gane untuk tahapan berikutnya. Dalam tahapan ini terdapat simbol verbal dan nonverbal,

Makna Simbolik upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nompakende Joa

Nompakande Joa adalah tahapan memberi sesajen sebagai makanan yang disajikan khusu kepada penghuni alam gaib atau makhluk gaib yang ada disekitar rumah tempat pelaksanaan upacara adat yang bertugas sebagai pengawal dan bertujuan untuk mengawasi jalannya ritual adat dari tahap awal hingga akhir.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosore Vayo

Setelah ritual mompakande joa selesai dilaksanakan dukun, anggota balia dan masyarakat yang mengikuti jalannya prosesi tersebut kembali ke rumah tempat pelaksanaan upacara adat, sesampainya di rumah dukun beserta angota balia memasuki rumah tempat pelaksanaan ritual kemudian duduk bersila mengelilingi tiang utama rumah setelah itu melakukan tahapan berikutnya yaitu mosore vayo. Pada tahapan mosore vayo tersebut dukun kembali menyanyikan gane atau mantra dan kemudian diikuti oleh seluruh anggota balia.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Mompesule Manu

Mompesule manu adalah tahapan pemotongan Ayam jantan yang masih muda yang dilakukan oleh bule (pembantu utama sando), kemudian ayam yang sudah dipotong tersebut dipisahkan menjadi dua bagian untuk melihat hati ayam. Menurut bapak Masrin Judin jika hati ayam rusak (hancur,busuk, atau timbul bercak-bercak) sebagai petanda bahwa dalam pelaksanaan upacara adat akan mengalami hambatan dan berbagai kesulitan yang tidak terduga, hal tersebut dikarenakan pemilik hajatan atau tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan tersebut hati mereka tidak ikhlas untuk menyelenggarakan upacara adat, sebaliknya jika hati ayam tampak bersih dan tidak rusak menandakan bahwa dalam pelaksanaan upacara adat akan berjalan lancar sesuai dengan rencana tanpa mengalami hambatan dan gangguan-gangguan, hal tersebut dikarenakan keluarga atau tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan upacara adat hati mereka ikhlas dan menyanggupi semua syarat-syarat yang harus dipersiapkan dalam upacara adat. Setelah melihat hati ayam yang dilakukan oleh pemimpin upacara adat dan seorang bule, pemimpin upacara adat atau dukun mengikatkan manik-manik atau Botiga disalah satu tangan bule. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol nonverbal, adapun simbol-simbol nonverbal.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nombangu Tava Kayu

Nombangu Tava Kayu adalah mendirikan berbagai macam daun kayu, kemudian di ikat bersama dengan kapak, tombak, dan parang di tiang utama rumah. Selain itu dibawah tiang utama rumah juga sudah disediakan berbagai macam sesajen dan parupalangga baru untuk digunakan dalam tahapan berikutnya. Pada tahapan nombangu tava kayu ini berbagai macam daun kayu, tombak, kapak dan parang yang sudah diikat di tiang utama rumah kemudian dibungkus dengan kain putih sebagai petanda bahwa semua yang terlibat dalam ritual tersebut berhati tulus dan suci. Dalam tahapan ini pemimpin upacara adat membacakan mantra yang berisi pemanggilan kepada penghuni alam gaib dan roh nenek moyang agar datang dan melihat ritual adat tersebut, selain itu pemimin upacara adat juga meminta kepada Allah SWT agar diberi kesehatan, umur panjang, dan kekuatan selama pelaksanaan ritual dari tahap awal hingga akhir.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nangande ka Ada

Nangande ka ada artinya makan bersama untuk pelaksanaan upacara adat. Pada tahapan tuan rumah menyuguhkan makanan untuk pemimpin upacara adat (dukun) dan kepada seluruh anggota balia untuk santap bersama. Selain itu, para tamu undangan maupun masyarakat yang hanya sekedar datang melihat jalannya upacara adat juga disuguhkan makanan. Makan bersama pada upacara adat ini merupakan wujud kebersamaan, saling menghargai, dan menghormati dalam kebersamaan. Dalam tahapan ini penyajian makanan disajikan di dua tempat yang berbeda yaitu makanan yang disajikan di dulang berkaki dan makanan yang disajikan di baki. Pada tahapan ini tidak ada mantra yang dibacakan, jadi yang nampak pada tahapan ini hanya simbol nonverbal saja.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosunggilama pamula

Setelah selesai makan untuk adat kemudian dilanjutkan dengan tahapan berikutnya yaitu nosunggilama pamula. Nosunggilama pamula adalah melantunkan mantra atau gane yang dinyayikan berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama. Pada mantra atau gane menyebut-nyebut semua nama penghuni alam gaib, roh nenek moyang, Dewa dari kayangan sebagai ungkapan permohonan maaf dan memohon pertolongan agar mereka bersama-sama mendampingi dukun dan anggota balia pada saat pelaksanaan ritual ini. Dalam tahapan ini juga disediakan berbagai macam isi sesajen, jaka, potampari, parupalangga baru, siranindi, diletakkan mengelilingi tiang utama rumah, dan sambulu gana masing-masing diletakkan didepan seluruh anggota balia sebagai wujud penghargaan tuan rumah dan digunakan sebagai syarat wajib dalam pelaksanaan upacara adat (hasil wawancara dengan bapak Masi).

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noisi Sakaya

Noisi Sakaya yaitu tahapan pengisian perahu dengan berbagai macam sesajen . Isi sesajen tersebut adalah : Loka dano (pisang gapi), Cicuru (kue cucur), Katupa (ketupat), Kandea patangaya (nasi ketan empat warna yaitu merah, putih, kuning, dan hitam), Ntalu daka (telur rebus),

Kaluku tueina (kelapa muda), Manu tunu samba (ayam bakar utuh), Ate Bimba nidaka (hati domba yang dikukus), Epu-epu (kue moci), Balengga Bimba (kepala Domba), Manu kodi ( anak ayam yang masih hidup), Poyu kaluku (nira kelapa). Semua isi sesajen dan kain kuning penutup parupalangga yang lama diletakkan dalam perahu. Sesajen tersebut dipersembahkan kepada penghuni laut yang sedangkan kain kuning di bawa ke tengah laut agar tidak ada orang yang mengambilnya, karena konon katanya kain penutup parupalangga mempunyai penunggunya dan Perahu yang berisi sesajen juga bertujuan membawa semua penyakit, malapetaka, bahaya, maupun bencana ke tempat yang jauh dalam bahasa kaili nompaura. Dalam tahapan ini tidak ada mantra yang dibacakan dan hanya terdapat simbol-simbol nonverbal saja.

Makna Simbolik Upacra Adat Baalia Baliore dalam Tahapan Nompopolivo Sakaya

Nompopolivo sakaya adalah tahapan mempersiapkan perahu yang di bawa ke pesisir pantai teluk Palu untuk dilarang. Sebelum membawa perahu pemimpin upacara adat (dukun) membaca mantra atau gane yang berisi permohonan ampun, permohonan pertolongan kepada Allah SWT dan roh para leluhur serta memohon restu dari para penghuni alam gaib dalam mempersiapkan perahu yang dibawa ke pesisir pantai untuk dilarung.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noavesaka sakaya

Noavesaka Sakaya yaitu tahapan pelarungan perahu, tahapan ini merupakan puncak dari seluruh upacara adat. Pada tahapan ini dukun membaca mantra yang berisi penyerahan perahu yang sudah siap dilarungkan dan diserahkan kepada para penghuni laut, agar mereka membantu membawa membawa perahu pada saat berlayar hingga ke lautan luas. Selain itu mantra tersebut berisi permohonan pamit kepada para leluhur, memohon keselamatan, umur panjang dan selalu diberi kekuatan dari Allah SWT setelah upacara adat ini selesai. Konon perahu yang membawa sesajen tersebut sudah membawa hal-hal buruk sebagai penolak bala, agar dibawa atau dibuang ke tempat lain atau kenegeri lain.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nosore Vayo setelah Pelarungan

Nosore vayo adalah tahapan pemanggilan bayangan setelah pelarungan perahu, kemudian pemimpin upacara adat, anggota balia dan semua orang yang ikut serta pada saat pelarungan perahu, kembali ke rumah tempat pelaksananaan upacara adat. Pada tahapan ini para pelaku balia duduk bersila dan berbentuk lingkaran di halam rumah tempat pelaksanaan upacara adat untuk kembali menyanyikan mantra. Mantra dalam tahapan ini bertujuan memanggil bayangan semua orang yang ikut serta pada saat pelarungan perahu agar jangan sampai tertinggal di pinggir pantai atau mengikuti perahu berlayar ke tengah laut, bagi masyarakat biasa nosore vayo ini berfungsi agar jangan sampai “keteguran”. (Hasil wawancara dengan bapak Masi)

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nodungganaka Tava Kayu

Setelah selesai Nosore vayo dukun dan anggota balia lainnya beristirahat sekitar empat jam kemudian dilanjutkan pada tahapan berikutnya yaitu tahapan nodungganaka tava kayu. Pada tahapan ini daun kayu yang diikat di tiang induk rumah dilepas dari ikatannya dengan diiringi nyanyian mantra, tahapan ini menandakan bahwa semua prosesi upacara adat akan segera berakhir. (Hasil wawancara dengan Samran Daud).

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Noporo ri Vamba

Noporo ri Vamba adalah memukul-mukul daun kayu kepada seluruh anggota keluarga yang membuat hajatan di depan pintu rumah yang dilakukan oleh dukun dan anggota balia. Salah seorang dari anggota keluarga duduk diatas boko-boko yang diatasnya sudah diletakkan Silaguri, dan Patoko. Hal tersebut diyakini bertujuan agar setiap anggota keluarga setelah pelaksanaan upacara adat selesai mendapat kesehatan, kekuatan dan keteguhan hati.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baaliore dalam Tahapan Nangande ka ada kaupuna

Nangande ka ada kaupuna adalah makan bersama untuk upacara adat pada tahap akhir. Pada tahapan ini tata cara pelaksanaann dan tujuanya sama dengan nangande ka ada sebelumnya. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol nonverbal saja.

Makna SimbolikUpacara Adat Balia Baliovre dalam Tahapan Nosunggilama Kaupuna

Nosunggilama kaupuna adalah tahapan akhir dari pembacaan mantra.

Pada tahapan ini doa-doa yang dilantunkan hampir sama dengan dengan nosunggi lama sebelumnya. Dalam tahapan ini hanya terdapat simbol verbal yaitu mantra yang dinyanyikan oleh para pelaku balia.

Makna Simbolik Upacara Adat Balia Baliore dalam Tahapan Nocera

Nocera adalah tahapan pengukuhan dari seluruh rangkaian upacara adat yang dilaksanakan. Pada tahapan ini pengukuhannya di tandai dengan pengambilan darah di jambul ayam jantan yang dilakukan oleh pemimpin upacara adat (dukun) untuk di gosokkan pada parupalangga, sesajen, potampari yang diletakkan dibawah tiang induk rumah.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Menurut bapak Samran Daud dalam upacara Adat Balia Baliore terdapat sembilan belas tahapan, yaitu nompairomu, nompakande joa, nosore vayo nompakande joa, nompesule manu, nombangu tava kayu, nangande ka ada, nosunggi lama pamula, no isi sakaya, nompopolivo sakaya, noavesaka sakaya, no dungganaka tava kayu, noporo ri vamba, nangande ka ada kaupuna, nosunggi lama kaupuna, nocera, nombaca doa salama, nobagi poloya, novonto potampari. Setiap tahapan dalam upacara terdapat simbol verbal dan nonverbal yang sarat makna.

Rekomendasi

Di Indonesia banyak keragaman budaya dan adat istiadat dari berbagai suku yang merupakan bagian dari kekayaan bagi negara Indonesia itu sendiri. Makna simbolik merupakan suatu hal yang digunakan oleh masyarakat kaili dalam upacara adat yang bertujuan untuk menolak bala. Pelaksanaan upacara adat balia Baliore patutlah dipertahankan dan dikembangkan agar dapat berlangsung terus menurus sebagai warisan budaya lokal. Oleh karena itu , dapat dijadikan sebagai:

1. Sebagai sumber reverensi atau bahan bacaan baik ditingkat sekolah mapun perguruan tinggi.

2. Diharapkan hasil penelitian ini, dapat ditingkatkan hasilnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan menyangkut pengembangan budaya.

3. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengajaran sastra atau materi pembelajaran.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, atas limpahan rahmat dan taufik-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad Saw, keluarganya serta para sabahat dan pengikut setia hingga akhir zaman. Penulisan artikel ini, tidak akan mencapai target sebuah karya tulis ilmiah tanpa bantuan dan arahan (petunjuk) dan berbagai pihak khususnya, Bapak Dr. Ali Karim, M. Hum., dan Dr. Moh Tahir, M.Hum., masing-masing sebagai ketua dan anggota tim pembimbing dengan penuh kesabaran dan ketulusan telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dorongan, hingga penyelesaian arikel ini.

DAFTAR RUJUKAN

Abubakar, Jamrin. (Tanpa Tahun). Mengenal Budaya dan Masyarakat Lembah Palu. Sulawesi Tengah.: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah.

Abubakar, Jamrin. 2010. Orang Kaili Gelisah. Sulawesi Tengah: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah.

Ali, Sulastri. M. dan Jasrum. dkk. 2000. Benda Atribut Sebagai Simbol Status Sosial. Sulawesi Tengah: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Tengah.

Ali, Sulastri. M. dan Jasrum. dkk. 2000. Upacara Adat Balia Suku Kaili. Sulawesi Tengah: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Tengah.

Alwi. 2005. Analisis Makna dan Masyarakat. Bandung: Angkasa.

Aminuddin. 2011. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Asrul. 2010. Mengenal Suku dan Etnis di Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah: Quanta Press.

Danesi, Marcel.2012. Pesan, Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.

De Saussure, F. (1857-1913). Kajian Semiotik. [online]. Tersedia: http://id.wikimedia.org/wiki/etimologi-semiotik. Diakses Pukul 15.19 Pada tanggal 14 april 2016.

Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeunetika. Yogyakarta: Paradigma.

Koentjaraningrat. 1980. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia.

Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Misnah. 2010. Mengenal Kebudayaan Balia (Upacara Adat Balia di Sulawesi Tengah). Sulawesi Tengah: Quanta Press.

 

Sumber : https://jurnal.pasca.untad.ac.id/index.php/bahasantodea/article/download/823/464/

0 komentar:

Posting Komentar

INFOGRAFIS

 
;